Kerjasama Toyota dengan BYD Akan Menjalar ke Indonesia?

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berpose di depan mobil Toyota Fine Comfort Ride Concept usai membuka GIIAS 2019 di ICE, BSD City, Tangerang, 18 Juli 2019. TEMPO/Tony Hartawan.

    Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berpose di depan mobil Toyota Fine Comfort Ride Concept usai membuka GIIAS 2019 di ICE, BSD City, Tangerang, 18 Juli 2019. TEMPO/Tony Hartawan.

    TEMPO.CO, Tangerang - Demi mempercepat target mengembangkan mobil listriknya, di Cina produsen asal Jepang, Toyota, menjalin kerjasama dengan pabrikan asal Cina yakni BYD.

    Lantas akankah kerjasama tersebut akan menjalar ke Indonesia? Mengingat Indonesia punya potensi dan target yang telah ditetapkan terkait tren kendaraan listrik.

    Menanggapi hal tersebut Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, bahwa kerjasama itu saat ini masih fokus dilakukan di Cina.

    "BYD kan masih di Cina, di Cina untuk konsumen Cina, tapi yang di Indonesia belum lah," katanya kepada wartawan, di BSD, Senin 22 Juli 2019.

    Sebelum melangkah lebih jauh berbicara akankah kerjasama Toyot dengan BYD akan masuk ke Cina, Bob mengatakan, lebih baik berbicara tentang regulasi kendaraan listrik di Indonesia yang hingga kini masih abu-abu.

    "Yang penting regulasinya dulu. Kalau kita sudah bisnis plant ke mana-mana, eh regulasinya(belum). Jadi harapan kita sih regulasinya segera selesai lah, supaya kita dibisnis bisa bikin bisnis plant," katanya.

    Meski demikian, lanjut Bob mengatakan, tidak menutup kemungkinan kerjasama antara Toyota dan BYD akan masuk juga ke Indonesia. Kerjasa Toyota dan BYD sendiri yang dilakukan di Cina kata Bob, karena memang pemerintah Cina sangat mendukung pengembangan tren kendaraan listrik.

    "Ya kalau di Cina kan jelasnya pemerintahnya tuh, regulasinya, dorongannya, insentifnya juga luar biasa. Makanya kerjasamanya di Cina untuk sementara di Cina, tapi tidak menutup kemungkinan lah di daerah mana ya, selama masing-masing punya kekuatan, kan nggak ada kerjasama yang satu unggul yang satu nggak, nggak ada yang mau ajak kerjasama kalau posisinya gitu. Kerjasama itu sama-saama punya keunggulan tapi berbeda keunggulannya masing-masing punya keunggulan," pungkasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mereka Boleh Tetap Bekerja Saat DKI Jakarta Berstatus PSBB

    PSBB di Jakarta dilaksanakan selama empatbelas hari dan dapat diperpanjang. Meski demikian, ada juga beberapa bidang yang mendapat pengecualian.