Yamaha-Sony Bikin Mobil Otonom, Meluncur Maret 2020

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mobil otonom SC-1 Sociable Cart hasil kerja sama Yamaha-Sony. (Antara)

    Mobil otonom SC-1 Sociable Cart hasil kerja sama Yamaha-Sony. (Antara)

    TEMPO.CO, Jakarta - Yamaha dan Sony bekerja sama menciptakan mobil otonom bernama SC-1 Sociable Cart, yang bukan saja berdesain unik namun turut dibekali teknologi pintar dari Sony.

    Kendaraan ini menyuguhkan lima tempat duduk dengan dimensi panjang 3.135mm, lebar 1.306mm dan tinggi 1.830mm. SC-1 Sociable Cart didukung oleh motor DC dengan laju 19km/jam.

    Dikutip dari CarAdvice, kendaraan ini memiliki fitur-fitur unggulan seperti kamera, teknologi peraba optik LiDAR, sensor ultrasonik, serta suspensi double wishbone di depan, rem cakram empat roda, dan paket baterai lithium-polimer.

    Kendaraan yang tidak memiliki jendela itu sudah dilengkapi dengan monitor 4K 49 inci di kabinnya, serta empat layar 4K 55 inci yang dipasang pada eksteriornya.

    Dengan bantuan berbagai kamera eksternal, SC-1 Sociable Cart dapat memutar video dan panduan rute dalam format realitas campuran di layar internal dan eksternal.

    Hal yang lebih canggih dari kendaraan ini ialah, dapat menggunakan kecerdasan buatan dan susunan sensornya untuk menentukan usia dan jenis kelamin orang di dalam dan di luar kendaraan untuk menyesuaikan tampilan iklan, hiburan, dan berita.

    Menurut kedua perusahaan, mereka berencana "meluncurkan layanan domestik di Jepang menggunakan model ini" pada tahun fiskal 2019 yang berakhir Maret 2020.

    Sony dan Yamaha menyatakan SC-1 Sociable Cart telah dikembangkan secara eksklusif untuk "memberikan pengalaman mobilitas baru", namun belum akan dijual untuk umum.

    Saat ini purwarupa mobil otonom SC-1 Sociable Cart sudah dipakai pada wahana malam hari di sebuah resor golf Okinawa, Jepang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.