Evolusi Hiburan di Mobil: Kini Layar Infotainment 48 Inci

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Layar super lebar dari Byrton M-Byte. Sumber: carscoops.com

    Layar super lebar dari Byrton M-Byte. Sumber: carscoops.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa dekade yang lalu, hiburan pada mobil hanya radio satu-satunya dengan layar imut monokrom. Hal itu berubah drastis dalam satu hingga dua tahun ini, teknologi hiburan dan layar infotainment berkembang karena produsen otomotif berlomba memberikan yang terbaik.

    Soal layar lebar ini, RAM produsen mobil asal Amerika menghadirkan layar sentuh 12 inci pada mobil pikapnya 1500. Kemudian Ford menyusul dengan layar serupa pada F-150 dan melengkapi dengan sistem infotainment SYNC 4 yang mampu mengakomodasi tampilan mulai dari 8 hingga 15,5 inci. Saat ini layar terbesar di pasaran adalah Tesla Model S dan Model X dengan luasan 17 inci.

    Beberapa produsen seperti Volkswagen Touareg dan Tesla Model 3 menghadirkan sistem infotainment 15 inci.

    Bahkan mobil yang tidak memiliki layar sentuh besar, dapat memiliki beberapa tampilan besar. Ini termasuk beberapa model Mercedes yang menampilkan klaster instrumen digital 12,3 inci dan sistem infotainmen 12,3 inci. Sejumlah perusahaan juga merangkul pengaturan tiga layar termasuk Audi dan Jaguar Land Rover.

    Data dari IHS Markit menunjukkan ukuran sistem infotainment rata-rata telah meningkat dari 6,4 inci menjadi 7,3 inci selama lima tahun terakhir. Mereka juga mencatat jumlah kendaraan yang dilengkapi dengan layar berukuran 7-inci atau lebih besar telah melonjak hampir 75 persen dalam periode waktu yang sama.

    Bahkan ada produsen yang menghadirkan layar super luas hingga 48 inci. Adalah Byton M-Byte yang mengadopsi layar selebar kabin mobil ini. Ada kemungkinan nantinya tren layar di kabin akan melebar.

    CARSCOOPS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.