Gara-Gara Iran, Trump Ancam Naikkan Tarif Impor Mobil Eropa

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump menyampaikan komentar setelah serangan udara Militer AS terhadap Jenderal Iran Qassem Soleimani di Baghdad, Irak, di Pantai Palm Barat, Florida, AS, 3 Januari 2020.

    Presiden AS Donald Trump menyampaikan komentar setelah serangan udara Militer AS terhadap Jenderal Iran Qassem Soleimani di Baghdad, Irak, di Pantai Palm Barat, Florida, AS, 3 Januari 2020. "Soleimani merencanakan serangan yang akan segera terjadi dan mengerikan terhadap para diplomat Amerika dan personel militer tetapi kami menangkapnya dalam suatu aksi dan menghentikannya," kata Trump kepada wartawan di resor Mar-a-Lago. [REUTERS / Tom Brenner]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam untuk mengenakan tarif 25 persen pada impor mobil Eropa. Hal tersebut dilakukan jika Inggris, Prancis dan Jerman tidak secara resmi menuduh Iran melanggar perjanjian nuklir 2015. Hal tersebut diungkap Washington Post mengutip pejabat Eropa yang tidak disebutkan namanya.

    Tiga negara Eropa memicu mekanisme perselisihan berdasarkan perjanjian pada hari Selasa, yang merupakan tuduhan resmi terhadap Teheran yang melanggar persyaratannya dan dapat menyebabkan pemberlakuan kembali sanksi PBB yang dicabut berdasarkan perjanjian tersebut.

    Meskipun Trump sebelumnya membuat ancaman untuk menempatkan kewajiban seperti itu pada impor mobil Eropa, dengan maksud di belakangnya untuk menerima persyaratan yang lebih besar untuk Washington dalam hubungan perdagangan AS-Eropa, bukan untuk menggeser kebijakan luar negeri Eropa, menurut media tersebut.

    Tidak jelas apakah ancaman itu dinilai perlu karena Eropa telah mengisyaratkan niat untuk memicu mekanisme perselisihan selama berminggu-minggu, dalam laporan surat kabar itu. Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri belum mau berkomentar soal kabar tersebut.

    Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir 2015, pada 2018. Washington mengatakan pengabaian pakta itu adalah bagian dari strategi yang dimaksudkan untuk memaksa Teheran menyetujui kesepakatan yang lebih besar.

    Iran, yang menyangkal program nuklirnya bertujuan untuk membuat bom, secara bertahap telah membatalkan komitmennya berdasarkan perjanjian sejak penarikan AS. Rusia, penandatangan pakta lain, mengatakan pihaknya tidak melihat alasan untuk memicu mekanisme perselisihan.

    Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer pada hari Kamis mengkonfirmasi bahwa negaranya menghadapi ancaman tarif dari AS, dengan mengatakan pada kunjungan ke London: "Ungkapan atau ancaman ini, seperti yang akan mereka lakukan, memang ada."

    Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan menyesalkan keputusan Inggris, Prancis, dan Jerman untuk mempermasalahkan soal perjanjian nuklir 2015 hanya karena tekanan AS. "Jika Anda ingin menjual integritas Anda, silakan. Tapi Jangan menganggap dasar moral/hukum yang tinggi," ujarnya.

    Sejak Washington menarik diri dari perjanjian dan menerapkan kembali sanksi unilateral 2018, pemerintah Uni Eropa telah berusaha menemukan cara untuk memungkinkan bisnis Eropa untuk terus terjalin dengan Iran tanpa dikenakan sanksi AS. Ketika ekonominya mengalami kemunduran, Iran yang semakin frustrasi telah membalas dengan penghentian langkah demi langkah dari komitmennya sendiri berdasarkan kesepakatan.

    Tiga pemerintah Eropa mengatakan mereka mengajukan pengaduan mereka sebagai tanggapan terhadap langkah terbaru oleh Teheran menangguhkan batas jumlah sentrifugal yang digunakannya untuk memperkaya uranium.

    INDEPENDENT | THE TIMES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara