3 Alasan Mengapa Orang Amerika Gandrung Mobil Bekas

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Showroom penjualan mobil bekas Toyota di Amerika. usedcarpost.net

    Showroom penjualan mobil bekas Toyota di Amerika. usedcarpost.net

    TEMPO.CO, JakartaMobil bekas saat ini seolah diabaikan di tengah kemeriahan hadirnya mobil listrik mutakhir dan truk pickup gussied-up.

    Sekarang, dalam masa pandemi Covid-19, mobil bekas tiba-tiba menjadi komoditas industri terpanas, seperti di Amerika Serikat.

    Laporan New York Times pada Selasa, 8 September 2020, mengungkapkan bahwa konsumen memilih kendaraan bekas sebagai mobil kedua atau ketiga sehingga mereka dapat menghindari angkutan umum selama pandemi virus Covid-19.

    Alasan lainnya, konsumen membeli barang bekas daripada barang baru untuk menghemat uang dalam ekonomi yang tidak pasti ini. Tidak tahu kapan mereka mungkin kehilangan pekerjaan.

    Permintaan mobil tua juga didorong oleh penghentian produksi mobil baru sekitar dua bulan pada awal 2020. Di seluruh Amerika, harga mobil bekas melonjak. Kenaikan ini menentang kebijaksanaan konvensional bahwa mobil mendepresiasi aset yang kehilangan sebagian besar nilainya saat mereka meninggalkan dealer.

    Pada Juli 2020, nilai rata-rata mobil bekas melonjak lebih dari 16 persen, menurut Edmunds.com. Pada Juni, dealer mobil waralaba menjual 1,2 juta mobil dan truk bekas, atau naik 22 persen dari tahun sebelumnya.

    Itu merupakan total penjualan bulanan tertinggi setidaknya sejak 2007 di Amerika.

    "Mobil bekas seharusnya mengalami depresiasi, tapi saya akan mencari nilai buku mobil di tempat parkir dan melihatnya lebih tinggi daripada di awal bulan," kata Adam Silverleib, Presiden Silko Honda di Raynham, Massachusetts. "Aku belum pernah melihat itu sebelumnya."


     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.