Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Kenali 4 Bahaya Mencampur BBM untuk Mesin Motor

Reporter

image-gnews
Pemudik motor di SPBU Pertamina Patrol, Indramayu, pada H-2 Lebaran, Kamis, 20 April 2023 pukul 13.00. TEMPO/ EDDY KURNIAWAN
Pemudik motor di SPBU Pertamina Patrol, Indramayu, pada H-2 Lebaran, Kamis, 20 April 2023 pukul 13.00. TEMPO/ EDDY KURNIAWAN
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Pertalite dan pertamax saat ini jadi bahan bakar minyak (BBM) paling banyak digunakan pengguna motor maupun mobil di Indonesia. Namun tak jarang ditemukan pengguna motor yang juga memakai BBM dari SPBU swasta karena alesan males mengantre.

Namun pemilik kendaraan harus sadar bahwa mencampur berbagai jenis BBM cukup berbahaya. Tentu saja mesin yang akan menjadi faktor paling berdampak jika terus melakukan kebiasaan tersebut.

Dikutip dari Wahana Honda, berikut bahaya mencampur BBM pada kendaraan.

1. Mesin ngelitik

Bahaya pertama yang dapat dirasakan ketika mencampur-campur BBM yakni mesin kendaraan menjadi knocking alias ngelitik. Kondisi seperti ini terjadi pada mesin mesin motor maupun mobil

Hal ini disebabkan bahwa mencampur kedua bahan bakar akan membuat kinerja pembakaran menjadi tidak sempurna. Itulah yang menyebabkan mesin kendaraan menjadi ngelitik.

2. Tarikan berat

Bahaya kedua yakni akselerasi motor maupun mobil menjadi berat. Itu bisa terjadi karena senyawa kedua bahan bakar tidak bisa melebur dengan sempurna.

Terjadinya perbedaan oktan yang menjadi sumber utama penyebab tarikan menjadi berat selama berjalannya waktu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

3. Sensor check engine menyala

Bahaya yang paling ditakuti oleh pengguna maupun memilik motor apabila sensor check engine menyala. Kondisi itu merupakan tanda bahwa terdapat hal yang tidak beres pada mesin kendaraan.

Umumnya juga bisa terjadi pada pengisian bahan bakar yang sembrono dengan mencampur 2 jenis. Akibatnya sensor dalam bahan bakar akan menyala dan mendeteksi secara otomatis bahwa terjadi pasokan bahan bakar yang bukan peruntukannya.

4. Performa menurun

Tanpa disadari bahwa selama menerapkan pola buruk mencampur jenis BBM, maka yang terjadi performa kendaran bisa menjadi menurun.

Hal ini terjadi karena bahan bakar yang tidak melebur dengan baik akan meninggalkan residu yang dapat memunculkan kerak. Kondisi itu yang dapat menyebabkan performa mesin menjadi menurun.

Pilihan EditorSuzuki Klaim Mobilnya Sudah Bisa Menggunakan BBM Bioetanol sejak 2018

Ingin berdiskusi dengan redaksi mengenai artikel di atas? Mari bergabung di grup Telegram GoOto

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


DPR Minta Menteri Kelautan Subsidikan Bahan Bakar untuk Nelayan

1 hari lalu

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.
DPR Minta Menteri Kelautan Subsidikan Bahan Bakar untuk Nelayan

Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR RI meminta Kementerian Kelautan dan Perikanan memberi subsidi bahan bakar untuk nelayan.


Dirut Pertamina Patra Niaga Turun Langsung Cek Kondisi Pipa Tuban

2 hari lalu

Dirut Pertamina Patra Niaga Turun Langsung Cek Kondisi Pipa Tuban

Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, turun langsung ke Terminal BBM Tuban pasca insiden kebocoran BBM jenis Pertamax yang terjadi di dalam area terminal


Pipa Bocor di Tuban, Pertamina Patra Niaga Langsung Evakuasi Warga

2 hari lalu

Pipa Bocor di Tuban, Pertamina Patra Niaga Langsung Evakuasi Warga

Warga yang terdampak mendapatkan pelayanan medis. Kebutuhan konsumsi juga dijamin oleh Pertamina Patra Niaga


Jokowi Sebut Hanya Kendaraan Listrik yang Boleh Digunakan di IKN

7 hari lalu

Presiden Joko Widodo saat menghadiri Peluncuran Kolaborasi Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik di SPBU MT Haryono, Jakarta, Selasa, 22 Februari 2022. Jokowi berharap melalui pembangunan ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir tersebut, Indonesia dapat menjadi produsen kendaraan listrik. Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden
Jokowi Sebut Hanya Kendaraan Listrik yang Boleh Digunakan di IKN

Jokowi optimistis indeks kualitas udara di ibu kota baru bisa mencapai angka 0.


Pascakebakaran, BPH Migas Tinjau Kilang Balikpapan untuk Memastikan Pasokan BBM Aman

10 hari lalu

Petugas melakukan pengecekan jaringan pipa minyak di kilang unit pengolahan (Refinery Unit) V, Balikpapan, Kalimantan Timur, 14 April 2016. Tempo/Dian Triyuli Handoko
Pascakebakaran, BPH Migas Tinjau Kilang Balikpapan untuk Memastikan Pasokan BBM Aman

BPH Migas memastikan pasokan BBM tetap terjaga dengan baik, saat meninjau Kilang Pertamina International (KPI) Refinery Unit (RU) V Balikpapan.


Penggunaan Pertalite Terus Naik Sejak Pandemi Berlalu, BPH Migas Minta Tambahan Kuota untuk 2025

13 hari lalu

Pengendara kendaraan motor saat membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di sebuah SPBU di Jakarta, Selasa 23 Januari 2024. PT Pertamina (Persero) belum menghapus BBM jenis Pertalite saat ini. Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan pihaknya saat ini masih mengkaji rencana itu. Rencana penghapusan Pertalite sebelumnya disampaikan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. Ia mengatakan pihaknya mengusulkan agar mulai tahun ini tak menjual BBM yang kadar oktannya (RON) di bawah 91, sehingga menghapus Pertalite yang spesifikasinya saat ini RON 90. Keputusan ini sekaligus menegaskan Pertamina bergerak mengikuti aturan standar emisi Euro 4 dari pemerintah. Nicke mengatakan setelah Pertalite dihapus, perusahaan pelat merah ini akan menggantinya menggunakan produk baru RON 92.Produk itu adalah Pertamax Green 92 yang merupakan campuran antara RON 90 (Pertalite) dengan 7 persen Bioetanol (E7). TEMPO/Subekti.
Penggunaan Pertalite Terus Naik Sejak Pandemi Berlalu, BPH Migas Minta Tambahan Kuota untuk 2025

BPH Migas mengajukan kuota distribusi jenis Pertalite sebesar 31,33 juta kilo liter-33,23 juta kilo liter, naik dari kuota tahun ini


Terkini: Tol PIK 2 Hubungkan Kawasan Segi Tiga Emas Tangerang, Gaji UMR Jakarta Rp 5 Juta Bisa Beli Rumah dari Tapera?

13 hari lalu

PIK 2. pik2.com
Terkini: Tol PIK 2 Hubungkan Kawasan Segi Tiga Emas Tangerang, Gaji UMR Jakarta Rp 5 Juta Bisa Beli Rumah dari Tapera?

Pembangunan jalan Tol PIK 2 menghubungkan Kamal-Teluknaga-Rajeg-Balaraja (Kataraja) sepanjang 38,6 kilometer.


Pemerintah Kembangkan BBM yang Diklaim Ramah Lingkungan, Luhut Bidik Keuntungan Rp12 T

13 hari lalu

PT Pertamina (Persero) telah resmi memasarkan Pertamax Green 95 sejak Senin, 24 Juli 2023. Produk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis baru itu merupakan hasil pencampuran Pertamax dengan Bioetanol sebesar 5 persen (E5). Perpaduan ini menghasilkan produk baru yang diklaim memiliki Research Octane Number (RON) sebesar 95. TEMPO/Tony Hartawan
Pemerintah Kembangkan BBM yang Diklaim Ramah Lingkungan, Luhut Bidik Keuntungan Rp12 T

Pemerintah mengembangkan BBM yang diklaim lebih ramah lingkungan, yaitu bahan bakar aviasi ramah lingkungan atau SAF dan Pertamax Green 95


Rencana Kenaikan BBM, Pengamat: Pemerintah Butuh Dana Program Makan Siang Gratis Prabowo

13 hari lalu

Ilustrasi pengendara kendaraan motor saat membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di sebuah SPBU. TEMPO/Subekti.
Rencana Kenaikan BBM, Pengamat: Pemerintah Butuh Dana Program Makan Siang Gratis Prabowo

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi menduga kenaikan harga BBM terkait dengan kebutuhan dana program makan siang gratis.


Ekonom Kritik Rencana Kenaikan BBM, PPN, hingga Iuran Tapera: Kemiskinan akan Bertambah

13 hari lalu

Suasana SPBU di pinggir Jalan Tol S. Parman, Jakarta Barat.  Tempo/Aisyah Amira Wakang.
Ekonom Kritik Rencana Kenaikan BBM, PPN, hingga Iuran Tapera: Kemiskinan akan Bertambah

Ekonom Celios mengkritik langkah fiskal pemerintahan Jokowi yang akan menaikkan BBM, PPN, hingga penarikan iuran Tapera. Kemiskinan akan meningkat.