MIAP: Pemalsuan Produk Merambah Segmen Pelumas Otomotif

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Plant Manager LOBP Shell Marunda, Ari Bawono; Director of Shell Lubricants, Dian Andyasuri; VP Consumer Brand Helix and Advance, Edward Satrio; Chairman of Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), Justisiari P. Kusumah, di sela acara perkenalan teknologi Jam Jar yang dilakukan oleh PT Shell Indonesia, Pabrik LOBP Shell Kawasan Perindustrian dan Perdagangan Marunda Center, Bekasi Barat, Rabu 18 Oktober 2017. TEMPO/GRANDY AJI

    Plant Manager LOBP Shell Marunda, Ari Bawono; Director of Shell Lubricants, Dian Andyasuri; VP Consumer Brand Helix and Advance, Edward Satrio; Chairman of Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), Justisiari P. Kusumah, di sela acara perkenalan teknologi Jam Jar yang dilakukan oleh PT Shell Indonesia, Pabrik LOBP Shell Kawasan Perindustrian dan Perdagangan Marunda Center, Bekasi Barat, Rabu 18 Oktober 2017. TEMPO/GRANDY AJI

    TEMPO.CO, Jakarta - Pembajakan atau pemalsuan di Indonesia tak kunjung turun. Bahkan, kini telah merambah ke bagian part otomotif, termasuk pelumas. Fenomena tersebut terjadi karena kepemilikan kendaraan terus meningkat tiap harinya. Hal itulah yang dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab tersebut.

    "Salah satu faktor pendorong peredaran pelumas palsu adalah peningkatan kepemilikan kendaraan bermotor di Indonesia," ujar Justisiari P Kusumah, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), di di Pabrik LOBP Shell Kawasan Perindustrian dan Perdagangan Marunda Center, Bekasi Barat, Rabu 18 Oktober 2017.

    Menurut Justi, produsen pelumas perlu membantu konsumennya dalam mengidentifikasi produk pelumas asli karena hal ini akan mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap produk tersebut.

    Baca: Cegah Pemalsuan Pelumas, Shell Kembangkan Teknologi Jam Jar

    Berdasarkan UU No 20 tahun 2016, produsen dapat terjerat pelanggaran apabila terbukti mengeluarkan barang palsu dengan ancaman maksimal lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

    Sedangkan pasal 480 KUHP mengenai Tindak Penadahan mengancam pengguna barang palsu dengan penjara maksimal 4 tahun.

    Sebelumnya, Shell Helix, memperkenalkan teknologi  Jam Jar, yakni segel inovatif baru yang eksklusif diciptakan oleh Shell. Segel Jam Jar memiliki kode QR pada lapisan kedua yang dapat dipindai dan terhubung ke server Shell Anti-Counterfeit System (Sistem Shell untuk Anti Pemalsuan).  

    Simak: Shell-Ducati Percaya Diri Kuasai Pasar Oli di Indonesia

    Dengan adanya teknologo tersebut, pemalsuan diharapkan dapat terpangkas secara signifikan. Karena ketika ingin membawa pulang pelumas, konsumen bisa langsung melakukan pengecekan lewat segelnya.

    Caranya, segel dapat dibuka hingga muncul kode QR dan 16 digit angka. Dengan hanya melakukan scan, pengguna akan langsung diarahkan ke website resmi Shell dan keluar konfirmasi terkait keaslian pelumas tersebut.

    Edward Satrio selaku Vice President B2C Brand PT Shell Indonesia, mengatakan pemeriksaan pelumas Shell itu asli atau palsu sangat mudah. Caranya dengan scan QR Code-nya, langsung dibawa ke web resmi Shell. “Langsung dapat dilihat barang itu  asli atau tidak,” ujarnya. 

    Selain itu, lanjut dia, QR code ini hanya dapat di-scan sebanyak lima kali saja. Bila sudah di-scan sebelumnya, dia akan muncul keterangan seperti produk ini sudah di-scan dua kali, dan sebagainya.  

    Bila hal tersebut dinilai repot, konsumen juga bisa mengunjungihttps://ac.shell.com dan memasukkan 16 angka yang tertera di lapisan kedua pada segel pengaman untuk melakukan verifikasi produk. Untuk mempermudah pengecekannya, bisa juga dengan mengirimkan SMS ke nomor 085574670055 secara gratis.

    Hingga saat ini, sudah 80 persen produk pelumas Shell Helix Ultra, Shell Helix HX8, Shell Helix HX7, dan Shell Helix HX5 di kemasan 4L dan 1L yang beredar telah mengadopsi teknologi segel Jam Jar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?