Mercedes-Benz Akan Berinvestasi Bangun Pabrik Baterai di Thailand

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang model berpose didamping mobil listrik Mercedes-Benz EQ konsep yang dipamerkan dalam acara Auto Expo di Greater Noida, dekat New Delhi, India, 7 Februari 2018. AP

    Seorang model berpose didamping mobil listrik Mercedes-Benz EQ konsep yang dipamerkan dalam acara Auto Expo di Greater Noida, dekat New Delhi, India, 7 Februari 2018. AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Mercedes-Benz meningkatkan tapak manufaktur di Asia Tenggara dengan menginvestasikan dana lebih dari 100 juta euro untuk meningkatkan kapasitas pabrik mobil sekaligus menyiapkan produksi baterai di Thailand sampai dengan 2020. Keputusan strategis tersebut, seperti dikutip siaran pers Mercedes-Benz, untuk merespons meningkatnya permintaan akan mobil listrik di kawasan negara-negara di Asia Tenggara.

    Di Thailand, Mercedes-Benz menggandeng mitra lokal Thonburi Automotive Assembly Plant (TAAP). Pabrik di Thailand ini untuk memastikan ketersediaan teknologi mutakhir kendaraan Plug-In Hybrid dan EQ Power yang diproduksi di Thailand.

    "Inisiatif listrik di jaringan produksi global Mercedes-Benz yang fleksibel dan efisien telah berjalan dengan baik dan dengan kecepatan tertinggi. Sebagai bagian dari strategi, Mercedes-Benz sekarang mempersiapkan masa depan elektromobilitas di Thailand bersama dengan TAAP," kata Markus Schäfer, Anggota Dewan Manajemen Mobil Mercedes-Benz, Rantai Produksi dan Jaringan Pasok.

    Baca: Penyebab Onderdil Mercedes-Benz Masih Diimpor dari Jerman dan AS

    Dengan konsep produksi baterai yang standar dan terukur, Mercedes-Benz dapat memulai operasinya di wilayah manapun dalam waktu singkat dan pada ukuran yang tepat. Produksi baterai di Thailand akan meningkatkan jaringan produksi baterai global Mercedes-Benz keenam di tiga benua.

    Uttama Savanayana, Menteri Perindustrian di Thailand, mengatakan bahwa Mercedes-Benz adalah salah satu produsen mobil terbesar di dunia dan produsen terkemuka di Thailand dengan standar produk dan layanan kelas dunia. "Investasi perusahaan ini di Thailand menghasilkan arus masuk mata uang dan berkontribusi pada perkembangan ekonomi, teknologi dan sosial negara," ujarnya.

    Dia mengatakan bahwa Mercedes-Benz telah mengajukan permohonan hak promosi untuk investasi barunya di produksi kendaraan listrik Plug-In Hybrid (PHEV), yang bertepatan dengan perkembangan industri otomotif Thailand menuju masa depan kendaraan listrik dan pengembangan rantai pasokan.

    Langkah baru ini mencerminkan kepercayaan diri produsen mobil Jerman menjadikan Thailand sebagai basis produksi utamanya di Asia Tenggara.

    Investasi tersebut juga akan membawa orang-orang Thailand kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya dengan pengetahuan dan teknologi yang lebih baik daripada produksi auto-part konvensional, yang akan memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan industri otomotif Thailand dan mendorong strategi pembangunan menuju hasil nyata.

    Baca: Brabus Keluarkan Model Jip Siap Lawan Land Rover Defender

    Pada 2022, Daimler akan menyulut seluruh portofolio Mercedes-Benz, yang menawarkan pelanggan setidaknya satu alternatif listrik di semua segmen, dari mobil kompak ke SUV besar.

    Perusahaan ini berencana menawarkan lebih dari 50 varian kendaraan elektrik. Mercedes-Benz akan terus mendukung pengembangan Plug-In Hybrids dan pengenalan sistem 48 volt.

    Model seri EQ pertama - EQC - akan mulai diproduksi pada 2019 di Bremen, Jerman. Produk dan merek teknologi EQ merupakan bagian integral dari CASE yang merupakan singkatan dari kombinasi pilar strategis konektivitas (Connected), penggerak otonom (Autonomous), penggunaan fleksibel (Shared & Services) dan sistem penggerak listrik.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.