Toyota Ingin Tambah 10 Dealer Baru, Masuk ke Kota Kecil

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Toyota terlihat pada mobil hybrid Prius psds acara North American International Auto Show di Detroit, Michigan, AS (9/1). REUTERS/Mike Cassese

    Logo Toyota terlihat pada mobil hybrid Prius psds acara North American International Auto Show di Detroit, Michigan, AS (9/1). REUTERS/Mike Cassese

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Toyota Astra Motor (TAM) hendak memperluas jaringan tahun ini. Perusahaan berencana menambah 10 dealer baru.

    Executive General Manager TAM Fransiscus Soerjopranoto mengatakan bahwa jumlah dealer saat ini masih kurang. Hingga akhir tahun lalu Toyota tercatat sebagai merek otomotif dengan jaringan terluas. Perusahaan memiliki 317 dealer.

    “Kami bukan hanya melihat volume, tapi lihat juga cakupan wilayahnya. Itu yang menjadi konsentrasi kami,” katanya kepada Bisnis, Senin, 19 Maret 2018.

    Baca: Wuling Ingin Tambah 10 Dealer Baru di Jawa Tengah

    Soerjo mengatakan dahulu cakupan dealer Toyota sebatas provinsi dan diturunkan hingga kabupaten. Selanjutnya tidak menutup kemungkinan akan diperluas hingga kecamatan, dan bahkan kelurahan.

    Dia menjelaskan satu kekuatan yang dimiliki TAM saat ini sebagai pemain lama di dunia otomotif dalam negeri adalah jaringan. Hal ini yang coba dipertahankan perusahaan di tengah gempuran produk dan merek baru.

    Terkait hal itu, TAM juga akan memanfaatkan era internet of things (IoT). Perusahaan tengah menggodok strategi mendekatkan diri kepada konsumen melalui dalam jaringan daring atau online. Akan tetapi bukan berarti TAM akan mengurangi jumlah diler fisik yang sudah ada saat ini.

    Simak: 2018, HPM Akan Tambah 10 Main Dealer Honda Baru

    Menurut Soerjo, dalam dunia otomotif, gerai konvensional tidak dapat dipisahkan. Berbeda dengan kondisi industri ritel lain yang bisa memanfaatkan situs daring semaksimal mungkin.

    Dalam proses membeli, agen pemegang merek bisa memanfaatkan internet. Namun untuk memperbaiki kendaraan diler fisik tetap diperlukan. “Akan ada kombinasi nantinya. Kami tidak mungkin menutup diri dari tren digitalisasi, tapi tidak mungkin juga mengurangi jumlah diler,” jelas Soerjo.

    Adapun berdasarkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), TAM masih menjadi pemimpin pasar otomotif domestik. Toyota mengusai 27,97 persen penjualan pabrik ke dealer mobil sepanjang dua bulan pertama tahun ini.

    Capaian ini di bawah performa tahun lalu. Pada periode yang sama, TAM menguasai 37,77 persen pangsa pasar.

    Simak: Perluas Jaringan, Mitsubishi Buka Dealer Baru di Banyuwangi

    Soerjo mengatakan hal ini disebabkan oleh penyesuaian stok dengan permintaan pasar. “Kami tidak mau membebani diler dengan stok yang berlebihan,” katanya.

    Selain itu pada tahun lalu, TAM juga diuntungkan dengan beberapa model yang diluncurkan pada tahun sebelumnya. Saat itu pemasaran Kendaraan Bermotor Hemat Bahan Bakar dan Harga Terjangkau (KBH2) Toyota  Calya belum mencapai satu tahun penuh.

    Sementara itu, pasar otomotif Tanah Air pada dua bulan pertama ini menorehkan kinerja positif. Berdasarkan data Gaikindo Januari—Februari 2018 merupakan pertumbuhan tertinggi sejak 3 tahun terakhir dibandingkan dengan periode yang sama. Penjualan pabrik ke diler pada mencapai 190.236 unit atau naik 4,86 persen dibandingkan dua bulan pertama tahun lalu.

    Dari data tersebut, pertumbuhan pasar domestik tertolong oleh kendaraan niaga. Kendaraan penumpang 4x2 tumbuh 5 persen menjadi 102.814 unit. Namun sedan dan 4x4 masing-masing turun 19,04 persen dan 5,08 persen.

    Sementara itu kendaraan niaga pikap, truk, dan kabin ganda membukukan pertumbuhan dua digit. Tercatat, kenaikan masing-masing secara berurutan sebanyak 13,69 persen, 37,89 persen, dan 94,62 persen. Di sisi lain, bus menorehkan kinerja negatif, atau turun 21,92 persen.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.