Rencana Kenaikan BBNKB, Gaikindo: Harga Kemungkinan Menyesuaikan

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung IIMS 2019 ramai di akhir pekan. Sabtu, 27 April 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    Pengunjung IIMS 2019 ramai di akhir pekan. Sabtu, 27 April 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperkirakan harga kendaraan bermotor (KBM) akan menyesuaikan kenaikan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB).

    Ketua I Gaikindo Jongkie D Sugiarto kepada Antara di Jakarta, Minggu, 30 Juni 2019, mengatakan harga kendaraan bermotor kemungkinan juga akan meningkat di kisaran besaran kenaikan BBNKB.

    "Menurut berita, kenaikan Bea Balik Nama sebesar 2,5 persen, kemungkinan kenaikan harga KBM juga dikisaran itu," katanya.

    Baca juga: Biaya BBNKB Akan Naik, Begini Reaksi Calon Pembeli Mobil

    Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyampaikan tiga Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) kepada DPRD DKI Jakarta dalam Rapat Paripurna di Gedung DPRD, Jakarta Pusat, Senin.

    Salah satu Raperda itu adalah mengenai Perubahan atas Perda Nomor 9 Tahun 2010 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

    Besaran tarif pajak sebelumnya sudah ditentukan, untuk penyerahan pertama sebesar 10 persen, sedangkan penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 1 persen. Dalam revisi baru, diusulkan penyerahan pertama naik menjadi 12,5 persen.

    Baca juga: Anies Berencana Naikan BBNKB 2,5 persen, Ini Tanggapan DFSK

    Sementara itu, salah seorang calon pembeli mobil baru, Alan (35) mengeluhkan kenaikan BBNKB karena akan mempengaruhi biaya yang akan dikeluarkan.

    "Kita bisa hitung, misal kita membeli mobil baru seharga Rp200 juta, biaya BBNKB-nya 10 persen dari harga jual kendaraan, berarti Rp20 juta yang harus kita keluarkan," ujarnya. 

    Antara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.