Insentif untuk Mobil Listrik di Berbagai Negara

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Mochamad Ashari (kiri) mengemudikan mobil listrik Lowo Ireng Reborn di ITS Surabaya, Jawa Timur, Kamis (18/7/2019). ANTARA/Didik Suhartono

    Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Mochamad Ashari (kiri) mengemudikan mobil listrik Lowo Ireng Reborn di ITS Surabaya, Jawa Timur, Kamis (18/7/2019). ANTARA/Didik Suhartono

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) tentang mobil listrik dengan tujuan mendorong perusahaan otomotif agar mempersiapkan mobil listrik di Tanah Air.

    Presiden Jokowi berharap DKI Jakarta bisa memulai penerapan kendaraan elektrifikasi dengan memberikan insentif kepada pengguna mobil listrik, misalnya parkir gratis atau subsidi pembelian.

    "Ada negara-negara yang memberi subsidi sekian dolar untuk membeli mobil listrik. Dan (bisa) dimulai seperti di Jakarta, busnya, mendorong taksi-taksinya. Bisa saja motor listrik didorong, digunakan di DKI Jakarta dulu," kata Jokowi usai peresmian gedung baru ASEAN di Jakarta, Kamis.

    Perpres yang diteken Joko Widodo pada Senin, 5 Agustus 2019, juga mengatur penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 35 persen sehingga dapat menekan harga jual produk kendaraan listrik dan terjangkau bagi masyarakat.

    Sejumlah negara telah menerapkan skema insentif atau subsidi untuk pengguna kendaraan ramah lingkungan, baik itu keringanan pajak hingga potongan harga beli untuk kendaraan baru. Berikut ulasan singkatnya:

    Amerika Serikat

    Di lansir Times, setidaknya lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat menerapkan insetif untuk mobil listrik. Nilai dan jenisnya pun bervariasi, New York, misalnya, menawarkan insentif US$ 2.000 (Rp29 juta) dengan tambahan diskon 10 persen biaya tol.

    California menawarkan insentif US$ 5.000 (Rp71 juta) dan tambahan US$3.000 (Rp42,6 juta) apabila mobil listrik itu digunakan di wilayah itu. Adapun Colorado menawarkan insentif hingga US$ 20.000  (Rp284,3 juta) yang tergantung jenis kendaraan dan penggunaannya.

    Cina

    Cina sebagai pasar kendaraan listrik terbesar dunia -- lebih dari 1 juta unit menurut EV-Volumes.com -- menawarkan insentif 50.000 yuan (Rp101 juta), kendati menurut warta Bloomberg insentif itu akan dipangkas setengahnya menjadi 25.000 yuan.

    Subsidi itu, menurut Bloomberg, menjadi pendorong penjualan mobil ramah lingkungan di Cina. Angka penjualan yang menarik itu juga mendorong perusahaan otomotif berinovasi menciptakan teknologi baru.

    Kanada

    Pasar otomotif Kanada mengalami kenaikan penjualan mobil "hijau" sebesar 30 persen berkat penerapan insentif 5.000 dolar AS oleh pemerintah sejak Maret 2019.

    Kanada serius memberikan insentif karena ingin seluruh mobil yang terjual pada 2040 merupakan kendaraan berpenggerak listrik, menurut Green Car Report.

    Norwegia

    Hampir 60 persen kendaraan baru yang terjual di Norwegia pada Maret 2019 adalah berpenggerak listrik, menurut Forbes, yang didominasi penjualan Tesla Model 3, Nissan Leaf, dan Volkswagen Golf.

    Insentifnya bukan uang semata, melainkan penghapusan pajak pembelian hingga fasilitas menggunakan jalur khusus bus dan keringanan biaya tol untuk pengguna mobil listrik.

    Sementara, Indonesia belum memberlakukan insentif mobil listrik sehingga harga jual produk itu masih tinggi, misalnya Tesla Model X dan Mercedes E300 yang mencapai harga di atas Rp2 miliar. Sedangkan mobil listrik dengan kisaran harga Rp1 miliar antara lain Mitsubishi Outlander PHEV, Toyota Alphard hybrid, dan BMW i3.

    Antara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.