Begini Cara Cina Sukses Mengganti Bus Bensin Jadi Bus Listrik

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bus listrik buatan BYD dipamerkan di Guangzhou automobile exhibition pada 20 November 2014. (China Daily/VCG)

    Bus listrik buatan BYD dipamerkan di Guangzhou automobile exhibition pada 20 November 2014. (China Daily/VCG)

    TEMPO.CO, Jakarta - DKI Jakarta berencana menerapkan sarana transportasi bertenaga listrik yang bakal dimulai dari transportasi umum, misalnya bus listrik Transjakarta.

    Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun sudah menghadap Presiden Joko Widodo guna membahas penerapan mobil listrik hingga Formula E di Ibu Kota, menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo pada pekan lalu yang mendorong DKI Jakarta agar memberikan insentif kepada masyarakat yang ingin membeli kendaraan listrik, termasuk pada armada bus maupun taksi bertenaga listrik.

    Cina yang kini sukses mengoperasikan transportasi massal dengan tenaga listrik di kota Shenzhen, awalnya juga tak mudah. Dilansir Guardian, Shenzhen menjelma jadi zona industri yang berpolutan, sehingga pemerintah berharap pengoperasian bus listrik dapat memangkas 48 persen emisi CO2 pada 2020.

    Awalnya, pengoperasian bus listrik mencemaskan sejumlah kalangan, misalnya orang tua dengan anak-anak atau lansia, karena bus listrik tanpa mesin bakar -- bergerak dengan motor listrik -- berjalan senyap sehingga berpotensi membahayakan pengguna jalan yang tidak mendengar suara mesin. Apalagi lalulintas di China juga padat.

    "Faktanya, kami menerima permintaan untuk membuat suara buatan pada bus sehingga orang dapat mendengarnya. Kami mempertimbangkannya, " kata Joseph Ma, wakil manajer umum Grup Bus Shenzhen, dilansir Guardian

    “Dengan bus diesel saya ingat berdiri di halte dan kepanasan, kebisingan, dan emisi yang mereka hasilkan membuatnya tidak tertahankan di musim panas,” kata Ma. "Bus listrik telah membuat perbedaan yang luar biasa."

    Penerapan bus listrik di Shenzhen juga tidak mudah karena harga armada bus yang mencapai 208.000 euro (Rp3,3 miliar) per unit. Untuk itu, pemerintah menerapkan subsidi kepada pembeli kendaraan listrik.

    "Biasanya, lebih dari setengah harga bus disubsidi oleh pemerintah," kata Ma, kemudian menambahkan ada subsidi tambahan apabila bus-bus itu telah beroperasi sejauh 60.000 km.

    "Pemerintah memandang angkutan umum begitu penting sebagai dari kesejahteraan sosial," kata dia.

    Setelah memberikan subsidi, pemerintah kota kemudian menyediakan titik pengisian daya listrik seantero kota Shenzhen, dengan menggandeng perusahaan pengelola bus. Totalnya ada 180 terminal pengisian dengan terminal Futian menjadi yang terbesar karena dapat mengisi daya 20 bus secara berbarengan.

    Setelah ekosistem kendaraan listrik siap, mulai dari kebijakan pemerintah kota, fasilitas, produk hingga subsidi, Kota Shenzhen kemudian mengembangkan pengoperasian kendaraan listrik pada armada taksi, yang kini sudah berjumlah 22.000 unit.

    "Untuk armada taksi, kami tidak terlalu memusingkan titik pengisian listrik, karena taksi rutenya tidak tetap dan bisa melintasi semua tempat," kata dia.

    Hingga saat ini, setidaknya ada 30 kota di Cina yang menggunakan angkutan umum tenaga listrik. Namun sayangnya, pemerintah berencana mengurangi subsidi pembelian kendaraan listrik karena harganya kini semakin mahal.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.