DFSK Berharap Suplier di Cina Ikut Berinvestasi di Indonesia

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung IIMS 2019 penasaran dengan SUV baru DFSK Glory 560. 27 April 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    Pengunjung IIMS 2019 penasaran dengan SUV baru DFSK Glory 560. 27 April 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Sukabumi -PT Sokonindo Automobile telah memiliki pabrik perakitan di Cikande, Serang, Banten. Pabrik itu sudah beroperasi sejak akhir 2017. Pabrik ini sudah digunakan untuk merakit mobil DFSK seperti pikap Super Cab, DFSK Glory 580, dan Glory 560.

    Pabrik DFSK saat ini memiliki kapasitas produksi (total) sebanyak 50 ribu unit per tahun. Pabrik ini berdiri di atas lahan seluas 80 ribu meter per segi dengan investasi awal US$ 150 juta.

    Sales and Marketing Director of Sales Center PT Sokonindo Autombile Alex Taningin mengoptimalkan pabrik perakitan di Cikande. Menurut Alex, masih ada lahan kosong di depan pabrik yang saat beroperasi. Lahan tersebut akan dimanfaatkan untuk pengembangan fasilitas di masa mendatang.

    "Kami ingin mengoptimalkan lahan pabrik yang masih kosong," kata Alex di sela-sela DFSK Glory 560 Media Test Drive di Sukabumi, Selasa, 20 Agustus 2019.

    Alex juga berharap vendor-vendor DFSK di Cina ikut berinvestasi di Indonesia sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih besar di masa mendatang. "Proyek kami di masa mendatang juga akan fokus pada memaksimalkan sumber daya manusia lokal, di sekitar pabrik," ujarnya.

    Di berbagai kesempatan, CO-CEO PT Sokonindo Automobil, Alexander Barus, mengatakan bahwa lahan kosong di depan pabrik perakitan DFSK akan digunakan untuk mendidikan pabrik mesin. Harapannya, seluruh komponen utama pembuatan mobil DFSK bisa dibuat secara lokal di Indonesia.

    "Harapannya, mulai dari body, chassis, hingga mesin, seluruhnya dibuat di Indonesia," kata Alexander Barus.

    Ia juga berharap kandungan lokal mobil DFSK yang saat ini 30 persen bisa ditingkatkan menjadi lebih dari 50 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.