Ekspor Mobil RI Terdampak Pandemi Corona

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • All New Honda Brio ekspor perdana ke Filipina, Rabu, 10 April 2019. Mobil itu dikapalkan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. (HPM)

    All New Honda Brio ekspor perdana ke Filipina, Rabu, 10 April 2019. Mobil itu dikapalkan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. (HPM)

    TEMPO.CO, Jakarta - Selain kinerja penjualan yang diprediksi anjlok, ekspor mobil juga diperkirakan melambat akibat pandemi corona. Sejumlah pabrikan seperti Honda Prospect Motor, Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dan Astra Daihatsu Motor mulai merasakan tren penurunan akibat pandemi virus corona.

    "Datanya, saya juga belum bisa kalkulasi. Tapi kalau berkurang (permintaan ekspor) itu sudah pasti," ujar Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal TMMIN, Bob Azam saat dihubungi Tempo, Senin, 20 April 2020.

    Soal ekspor, kata dia, kesiapan logisitik menjadi sarat yang terpisahkan. Oleh karena itu, TMMIN terus memantau ketersediaan komponen, terutama bahan impor, agar tetap bisa memproduksi kendaraan di dalam negeri. "Logistik berjalan, tapi ada beberapa keterbatasan. Ya, maklumlah situasi bisnis juga sedang tidak normal, mengalami disruption," tutur dia.

    Bob juga belum bisa memprediksi kapan situasi ini akan berakhir. Menurut dia, sulit melihat kapan ekspor akan kembali normal di tengah pandemi saat ini. "Lockdown beberapa negara dan harga minyak yang jatuh, membuat kita sulit memprediksi," ujarnya.

    Penurunan permintaan ekspor juga dirasakan Astra Daihatsu Motor. Direktur Marketing ADM, Amelia Tjandra memprediksi penurunan permintaan ekspor kurang lebih 60 persen pada April-Juni dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    "Itu karena banyaknya negara yang melakukan aktivitas lockdown sehingga pengiriman ekspor terganggu," kata Amel, Senin 20 April 2020.

    Assistant Manager Public Relations Honda Prospect Motor (HPM) Yulian Karfili mengakui adanya penurunan permintaan ekspor. Arfi sapaannya, menyebut bahwa permintaan pada bulan Maret turun dibandingkan bulan Februari 2020.

    "Itu karena permintaan dari negara tujuan (menurun), bukan karena produksi Indonesia yan menurun," ujarnya.

    Saat ini, kata Arfi, HPM masih melakukan pengiriman untuk ekspor CBU dan komponen. Tetapi pada saat yang sama, HPM juga terus memantau kondisi dan permintaan dari negara tujuan. Pengiriman untuk eskpor Januari - Maret total 1.830 unit.

    "Kondisi ke depannya sangat tergantung pada kondisi produksi di Indonesia dan permintaan pasar dari negara tujuan," kata dia.

    Pembatasan impor dan ekspor karena pandemi corona menjadi salah satu faktor penghambat kegiatan produksi. Sebab, industri otomotif masih bergantung pada sistem pasokan komponen impor, mulai dari bahan baku hingga spare parts.

    Berdasarkan data PT Indonesia Kendaraan Terminal, jumlah bongkar muat kendaraan CBU mencapai 29.622 unit pada Maret 2020. Angka itu meningkat 18,40 persen dibandingkan periode yang sama pada Maret 2019, yakni 25.019 unit.

    IPCC juga melaporkan jumlah CBU impor pada Maret 2020 mencapai 6.388 unit atau turun sebesar 13,93 persen secara tahunan yang membukukan 7.422 unit

    "Berjalannya layanan bongkar muat ekspor dan impor di tengah pandemi Covid-19 memperlihatkan masih adanya permintaan kendaraan secara global," tulis keterangan resmi IPPC seperti dikutip dari Bisnis, Rabu 15 April 2020.

    Sekretaris Jenderal Gaikindo, Kukuh Kumara, menilai kinerja industri otomotif Indonesia memang terdampak oleh adanya pandemi COVID-19. Namun Kukuh optimistis, situasi ini bisa pulih sebelum tahun 2020 berakhir. Asumsinya kata dia, pandemi virus corona bisa diatasi pada akhir bulan Mei 2020 atau awal Juni 2020.

    "Upaya recovery diharapkan bisa dimulai pada bulan Juli 2020 sehingga bulan Agustus, kinerja industri otomotif Indonesia mulai menunjukkan pemulihan , walaupun belum sepenuhnya,"kata dia kepada Tempo, Senin, 20 April 2020.

    Usaha pembiayaan pembelian kendaraan bermotor juga diharapkan nisa kembali bekerja normal. Sehingga target Gaikindo yang sudah direvisi menjadi 600,000 unit, arau menurun sekitar 50 persen dibanding tahun 2019 bisa terwujud.

    Adapun untuk kinerja ekspor pada periode Januari-Maret 2020, diklaim, Kukuh masih menunjukkan performa positif. Menurut dia, total ekspor kendaraan sampai Maret 2020 meningkat sekitar 9 persen dibanding kurun waktu yang sama pada tahun lalu.

    "Semoga masa sulit ini bisa segera kita lewati bersama dengan baik," kata dia.

    Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo), ekspor mobil dalam bentuk utuh Maret 2020 mencapai 28.019 unit. Angka menurun 7,8 persen dibanding ekspor Februari sebanyak 30.386 unit.

    Meski demikian dibanding ekspor di bulan yang sama tahun sebelumnya meningkat 9,3 persen yang hanya 25.629 unit. Sedangkan pada Januari hingga Maret 2020 total ekspor CBU mencapai 77.315 unit. Angka ini lebih tinggi 9,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 70.779 unit.

    Adapun untuk jenis CKD dan Komponen terurari mengalami penurunan dari periode yang sama tahun sebelumnya.

    Data ekspor Gaikindo Januari - Maret 2020

    Ekspor CBU

    Januari - Maret 2020: 77.315 unit 
    Januari - Maret 2019: 70.779 unit 

    Ekspor CKD

    Januari - Maret 2020: 87.141 set 
    Januari - Maret 2019: 133.872 set

    Ekspor komponen

    Januari - Maret 2020: 17. 311.870 unit
    Januari - Maret 2019: 22.144.280 unit


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto