Great Wall Motor Berharap Penjualan Mobil Membaik di Semester II

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Great Wall Motors di pameran otomotif Delhi Auto Expo, 6 Februari 2020. (China Daily)

    Great Wall Motors di pameran otomotif Delhi Auto Expo, 6 Februari 2020. (China Daily)

    TEMPO.CO, Beijing - Great Wall Motor mengharapkan penjualan mobil di Cina kembali normal pada semester II tahun ini. Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur GWM, Wang Fengying, dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Reuters, Senin, 25 Mei 2020.

    “Kami akan mengejar penjualan yang wajar dan pangsa pasar yang lebih tinggi, untuk menjamin keuntungan dan citra merek,” kata Fengsing.

    Fengying juga mengungkap beberapa strategi yang akan dilakukan Great Wal. Di antaranya adalah meluncurkan model mobil listrik, bensin-listrik hybrid dan plug-in hybrid. Perusahaan yang berbasis di Baoding itu juga berencana untuk menjual mobil penumpang berbahan bakar sel hidrogen mulai tahun 2023.

    Perusahaan, yang telah menginvestasikan 17,5 miliar yuan (setara Rp 36,1 triliun, kurs saat ini Rp 2.063 per yuan) pada penelitian dan pengembangan teknologi dalam lima tahun terakhir, akan menghabiskan 30 miliar yuan untuk elektrifikasi, kendaraan cerdas, teknologi mobilitas di tahun-tahun mendatang, kata Fengying.

    Fengying mengatakan bahwa produksi dan penjualan mobil Cina akan memasuki tahap pertumbuhan meski sangat rendah. Ia mendesak pemerintah untuk mendukung ekspansi luar negeri produsen mobil di negara itu.

    Great Wall setuju untuk membeli dua pabrik General Motors di India dan Thailand awal tahun ini. Perusahaan berencana untuk menjual lebih banyak model pikap dan truk di negara-negara ASEAN, Australia, Afrika Selatan dan di Amerika Selatan.

    Untuk mengelola rantai pasokan dengan lebih baik, Great Wall, yang membangun pabrik dengan BMW, akan melokalisasi produksi bagian-bagian utama mobil.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.