Siasati Aturan Emisi, Suzuki Jimny Dijual di Eropa Sebagai Kendaraan Niaga

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suzuki Jimny, 6 Agustus 2020. TEMPO/Wawan Priyanto

    Suzuki Jimny, 6 Agustus 2020. TEMPO/Wawan Priyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Penjualan Suzuki Jimny sebagai mobil penumpang sudah dihentikan di Eropa. Meski demikian, bukan berarti Jimny hilang dari Benua Biru itu. Sebagai gantinya, Jimny dipasarkan sebagai kendaraan komersial atau kendaraan niaga ringan dengan dua baris tempat duduk. Bangku baris kedua dilepas.

    Hal ini akan membuat ruang bagasi Jimny menjadi lebih luas. Di belakang jok depan diberi penyekat, layaknya sebuah cargo van. Dimensinya tak berubah, hanya produsen Jepang itu mencoba untuk menawarkan Jimny masuk ke segmen kendaraan komersial ringan.

    Kemungkinan besar Suzuki mengambil langkah transisi ini untuk mematuhi aturan emisi yang ketat di Eropa. Sekadar catatan, Suzuki menghentikan penjualan Jimny karena aturan emisi yang ketat untuk kendaraan penumpang. Menurut laporan rushlane.com, ada relaksasi yang signifikan untuk kendaraan komersial di Eropa. 

    Karenanya, Suzuki melihat peluang ini dengan memasukkan Jimny sebagai kendaraan komersial ringan (Light Commercial Vehicle/LCV) sehingga dapat melanjutkan operasi penjualannya. 

    Meski masuk sebagai kendaraan komersial, Jimny masih akan dibekali mesin bensin 1,5 liter. Mesin dengan daya hingga 100 hp ini dikawinkan dengan tramsmisi AWD Pro Suzuki. 

    Secara teknis, seluruh pengaturan powertrain akan tetap sama antara model 5-seater dan CV 2-seater. Namun, kabar baiknya bagi Suzuki adalah ia dapat menjual Jimny meskipun kandungan emisi 173 gram CO2 per km, berkat norma emisi yang relatif lunak untuk LCV di Eropa. 

    Dengan pembaruan baru, area penumpang belakang akan memberi ruang bagi kompartemen kargo yang sangat besar yang akan memiliki kapasitas keseluruhan 863 liter. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.