Begini Cara Grab Meriset Efektifitas Jalur Hadapi Kemacetan

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria mengenakan kaos bertuliskan Grab berdiri di antara kantor Grab dan Uber di Singapura, 26 Maret 2018. (AP Photo/Wong Maye-E)

    Seorang pria mengenakan kaos bertuliskan Grab berdiri di antara kantor Grab dan Uber di Singapura, 26 Maret 2018. (AP Photo/Wong Maye-E)

    TEMPO.CO, Jakarta - Grab dan National University of Singapore (NUS) meluncurkan laboratorium Artificial Intelligence (AI) guna mengembangkan solusi-solusi untuk mentransformasikan transportasi di perkotaan serta mempersiapkan jalan bagi kota-kota yang lebih pintar di Asia Tenggara.

    Grab-NUS AI Lab, yang telah dibangun dengan investasi gabungan awal senilai Sin$6 juta, merupakan laboratorium Al pertama untuk Grab dan laboratorium Al pertama bagi NUS yang bekerja sama dengan mitra komersil.

    Berlokasi di NUS Institute of Data Science, Al Grab-NUS Lab akan memanfaatkan data dari platform Grab untuk menyelesaikan tantangan nyata yang kompleks di Asia Tenggara. Dengan lebih dari dua miliar perjalanan, kumpulan data Grab yang luas yang memberikan wawasan lebih mendalam tentang pergerakan kota-kota di Asia Tenggara saat ini. Dengan menggabungkan data dan keahlian riset NUS dalam bidang Artificial Intelligence, dua mitra tersebut dapat memetakan pola lalu lintas dan mengidentifikasi cara untuk meningkatkan mobilitas dan tingkat kenyamanan di perkotaan di Asia Tenggara secara langsung.

    Baca: Grab Belanjakan Duit Rp 13 Triliun dari Toyota untuk Sektor Ini

    Anthony Tan, Co-founder & CEO Grab, mengungkapkan bagaimana hasil dari Grab-NUS AI Lab ini dapat menciptakan perubahan untuk Jakarta dimulai dari hari ini. “Data dari platform Grab dapat memetakan pola lalu lintas dan evolusi dalam mobilitas di perkotaan di Asia Tenggara," ungkapnya.

    Ia menjelaskan, data Grab menunjukkan bahwa waktu perjalanan dari Jalan Mangga Besar ke Tanah Abang dapat dipersingkat secara drastis. Jika rute ini lebih cocok ditempuh oleh transportasi bersama seperti bus, kereta dan GrabShuttle, maka dapat mengurangi waktu perjalanan saat jam sibuk sebesar 25 persen atau dari 60 menit menjadi 45 menit. "Saya menantikan untuk bekerja sama dengan pemerintah guna mengubah data dari Grab-NUS AI Lab menjadi solusi yang bermanfaat,” jelasnya.

    Grab-NUS AI Lab akan berfokus untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan transportasi pada platform Grab di kota-kota Asia Tenggara terlebih dahulu dan akan diperluas ke penelitian terhadap tantangan-tantangan yang lebih besar yang dihadapi kota-kota di Asia Tenggara, seperti kemacetan dan kelayakan hidup di perkotaan. Para peneliti di Grab-NUS AI Lab akan menciptakan platform AI yang kuat untuk machine learning berskala besar dan analisis visual yang dapat mengembangkan aplikasi baru dari kumpulan data yang dimiliki Grab. Laboratorium ini memungkinkan Grab untuk memahami dan mengantisipasi kebutuhan para pelanggan dan mitra.

    Presiden Direktur NUS, Professor Tan Eng Chye, mengatakan, NUS sangat senang menjadi mitra pertama Laboratorium Al Grab. Grab-NUS AI Lab merupakan upaya kolaborasi besar dimana para peneliti NUS akan bekerja sama dengan para data scientist Grab untuk menciptakan inovasi AI yang unik berdasarkan pengetahuan yang relevan dengan Asia dan juga dunia. "Ini juga merupakan kesempatan besar bagi para peneliti dan pelajar dalam menciptakan dampak yang nyata melalui penelitian kami mengenai data ilmiah dan AI." ungkap Tan Eng Chye.

    Grab memiliki misi besar untuk mengatasi tantangan paling kompleks di Asia Tenggara, khususnya kemacetan yang melumpuhkan banyak kota. Perusahaan teknologi ini telah menempuh perjalanan yang panjang dan saat ini sedang berusaha meningkatkan taraf hidup mitranya melalui kedalaman data yang dimiliki dari jutaan rute, perjalanan, dan lokasi.

    Baca: Ini Tujuan Toyota Mengucurkan Dana Rp 13 Triliun ke Grab

    Laboratorium AI akan memanfaatkan kekuatan data Grab dan machine learning dengan penelitian dan bakat dari institusi terkemuka di dunia, untuk menjadi alat berharga bagi pemerintah yang sedang mengimplementasikan transportasi yang lebih pintar di kota-kota di Asia Tenggara.

    Laboratorium AI juga akan berkontribusi bagi pengembangan bakat AI lokal melalui pelatihan terhadap mahasiswa PhD yang akan belajar di NUS. Didukung dengan Economic Development Board (EDB) Singapura, program pelatihan PhD memberikan kesempatan bagi pada mahasiswa untuk tidak hanya melatih kemampuan yang relevan, tetapi juga menggunakannya untuk menghadapi tantangan nyata melalui platform Grab.

    Grab-NUS AI Lab berlokasi di bangunan inovasi 4.0 yang terletak pada kampus NUS Kent Ridge dan akan menjadi rumah bagi para 28 peneliti yang terlibat dalam beragam proyek AI.

    SWA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.