Masalah Airbag, McLaren Recall 2.792 Unit di Amerika

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Supercar McLaren MP4-12C yang dimodifikasi dengan nuasan warna kuning  dipamerkan dalam acara AutoPro Indonesia 2017 di JCC, Senayan, Jakarta, 23 Februari 2017. Tempo/Fajar Januarta

    Supercar McLaren MP4-12C yang dimodifikasi dengan nuasan warna kuning dipamerkan dalam acara AutoPro Indonesia 2017 di JCC, Senayan, Jakarta, 23 Februari 2017. Tempo/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Pabrikan supercar yang berbasis di Woking, Inggris, yaitu McLaren merecall 2.792 unit mulai model 2012 hingga 2017 di Amerika Serikat. Penarikan kembali ini diduga karena ada masalah pada bagian airbag. 

    Data tersebut merujuk pada Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional Amerika Serikat. Seri yang terkena dampak penarikan kembali diantaranya, MP4-12C, 650S, 675LT, P1, dan 570. Menariknya, penarikan itu juga mencakup kendaraan yang terlibat dalam tabrakan di mana airbag telah mengembang. 

    Baca: McLaren Senna Dibuat Handmade Hanya 500 Unit, Harganya

    Proses penarikan kembali akan dilakukan mulai 31 Maret 2019, perbaikan ini tentunya dilakukan tanpa biaya kepada pelanggan. Masalah airbag ini diklaim akibat Inflator rusak setelah terpapar kelembaban dan siklus suhu panas-dingin.  

    Baca: McLaren 720S Spider Mewah, Akselerasi 0-200 KM/Jam 7 Detikan

    Sehingga memicu terjadinya perubahan kimia yang dapat menimbulkan ledakan, atau airbag dapat pecah. Dalam kasus ini, McLaren akan mengganti airbag sisi penumpang, bukan airbag pengemudi. Inflator pengganti akan direvisi menggunakan teknologi yang kualitasnya tidak menurun seiring waktu.

    Airbag Takata kini tidak lagi memegang brand McLaren karena telah diakuisisi oleh Key Safety Systems setelah bangkrut. Tiga jajaran direksinya dihukum karena memalsukan data.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.