Penjualan Sepeda Motor Tahun Ini Diperkirakan Turun 25-40 Persen

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepeda motor terbaru Yamaha FreeGo saat ditampilkan dalam Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2018 di JCC, Jakarta, 1 November 2018. Skuter matik berkapasitas 125 cc ini memiliki banyak fitur unggulan jika dibanding saudaranya, Nmax, antara lain bagasi yang lebih besar, yang berkapasitas 25 liter. TEMPO/Fardi Bestari

    Sepeda motor terbaru Yamaha FreeGo saat ditampilkan dalam Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2018 di JCC, Jakarta, 1 November 2018. Skuter matik berkapasitas 125 cc ini memiliki banyak fitur unggulan jika dibanding saudaranya, Nmax, antara lain bagasi yang lebih besar, yang berkapasitas 25 liter. TEMPO/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, JakartaKebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menghentikan penyebaran virus corona baru (Covid-19) berdampak signifikan terhadap penjualan sepeda motor.

    Vice President Director PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Dionisius Betty, mengatakan bahwa penjualan sepeda motor sepanjang April 2020 turun 70 persen. “Mei masih akan turun. Juni-Juli diperkirakan turun 25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” kata dia dalam bincang-bincang secara virtual pada Senin, 18 Mei 2020.

    Menurut pria yang akrab disapa Dion ini, penjualan sepeda motor pada Januari-Maret 2020 masih cukup baik dan tumbuh 2 persen. Sayang, performa apik ini tiba-tiba anjlok setelah wabah virus corona menghantam Indonesia mulai akhir Maret 2020.

    Sejak awal April 2020, aktivitas masyarakat di daerah yang memberlakukan PSBB menjadi terbatas. Hal inilah yang mendorong menurunnya penjualan sepeda motor. “Dampak yang lebih panjang lagi adalah menurunnya daya beli masyarakat karena PSBB ini. Ketika aktivitas masyarakat terhenti, ekonomi juga ikut terhenti, daya beli pasti menurun,” ujar dia.

    Meski demikian, Dion memperkirakan penurunan penjualan akan mulai berkurang seiring dengan kebijakan pelonggaran PSSB. Di Jakarta misalnya, kata dia, bengkel sepeda motor sudah dibolehkan untuk beroperasi sejak beberapa waktu lalu dengan syarat menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Paling tidak, bisa menunjukkan mulai adanya recovery.

    Di Asosiasi Industri Sepeda Motor Idonesia (AISI), kata dia, ada pembahasan mengenai prediksi penjualan hingga akhir tahun. Angkanya dikisaran 25 hingga 40 persen dari perkiraan penjualan tahun ini sebesar 6,5 juta unit. “Covid-19 ini belum ada kepastian kapan selesainya, tapi 9 bulan ke depan sepertinya belum tentu recovery, jadi perkiraan ya 25-40 persen penurunannya,” ujar dia.

    Ia berharap pandemi Covid-19 segera dapat diatasi sehingga kehidupan bisa kembali normal seperti semula.

    Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Johannes Loman menyatakan dampak pandemi Covid-19 sangat terasa bagi industri kendaraan roda dua. Dia memprediksi dampak tersebut akan memengaruhi setengah penjualan dari total pasar.

    “Total market yang kami prediksi pada tahun ini mencapai 6,4 juta unit, mungkin bisa turun 40-50 persen,” ujarnya dalam diskusi Industry Roundtable secara daring, seperti dikutip dari Bisnis.com, Jumat, 15 Mei 2020. 

    Menurut Loman, penurunan tersebut disebabkan sepeda motor merupakan alat produksi, sehingga apabila perekonomian ke depan kurang baik, maka konsumen dipastikan menahan pembelian.

     Selain itu, sebesar 70 persen pembelian sepeda motor menggunakan kredit. Pada saat bersamaan, perusahaan pembiayaan atau leasing ikut memperketat pemberian kredit kepada konsumen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto