Eks Tentara AS yang Membantu Carlos Ghosn Kabur Bisa Diekstradisi

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Ketua Nissan Motor Carlos Ghosn meninggalkan Rumah Detensi Tokyo di Tokyo, Jepang 25 April 2019. REUTERS/Issei Kato/File Photo

    Mantan Ketua Nissan Motor Carlos Ghosn meninggalkan Rumah Detensi Tokyo di Tokyo, Jepang 25 April 2019. REUTERS/Issei Kato/File Photo

    TEMPO.CO, BostonSeorang hakim di Amerika Serikat memutuskan dua pria asal Massachussetts yang membantu pelarian mantan bos Nissan, Carlos Ghosn, dari Tokyo ke Libanon akhir tahun lalu dapat diekstradisi ke Jepang, Reuters, Jumat, 4 September 2020. 

    Hakim AS Donald Cabell di Boston menolak argumen yang menentang ekstradisi oleh veteran Pasukan Khusus Angkatan Darat AS Michael Taylor dan putranya, Peter Taylor, membuka jalan bagi Departemen Luar Negeri AS untuk mempertimbangkan menyerahkannya.

    Paul Kelly, pengacara keluarga Taylors, mengatakan mereka akan menyampaikan masalah kepada Departemen Luar Negeri yang tidak dipertimbangkan oleh Cabell, termasuk "kepahlawanan dan keberanian" Michael Taylor dan "seringnya penolakan" Jepang untuk mengekstradisi warganya sendiri.

    Departemen Luar Negeri tidak menanggapi permintaan komentar Reuters.

    Jaksa penuntut mengatakan keluarga Taylors memfasilitasi pelarian Ghosn dari Jepang pada 29 Desember 2019, disembunyikan di dalam kotak dan diterbangkan dengan jet pribadi sebelum mencapai Libanon, rumah masa kecilnya, yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Jepang.

    Ghosn sedang menunggu persidangan atas tuduhan bahwa dia terlibat dalam kesalahan keuangan, termasuk dengan memanipulasi kompensasinya dalam laporan keuangan Nissan. Mantan petinggi Nissan itu membantah melakukan kesalahan.

    Jaksa penuntut mengatakan Taylor, seorang spesialis keamanan swasta, dan putranya menerima US$ 1,3 juta (setara Rp 19,1 miliar kurs saat ini US$ = Rp 14.753) untuk layanan mereka. Mereka telah ditahan tanpa jaminan sejak penangkapan mereka pada bulan Mei atas permintaan Jepang.

    Pengacara mereka telah berargumen bahwa mereka tidak dapat diekstradisi karena hukum pidana Jepang tidak menyatakan bahwa membantu seseorang dalam stiuasi penangguhan penahanan dengan jaminan merupakan kejahatan, dan bahwa mereka hanya dapat dituntut jika pihak berwenang Jepang sudah mengejar Ghosn sebelum melarikan diri.

    Tapi Cabell menolak untuk menebak-nebak interpretasi Jepang atas hukumnya sendiri yang membuatnya ilegal untuk memungkinkan pelarian seseorang yang telah melakukan kejahatan. Dia mengatakan aksi keluarga Taylors salah di mata hukum.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto