Tak Hanya Indonesia, Afrika Selatan Juga Minta Pajak Mobil Baru Dipangkas

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjung melihat mobil-mobil Audi saat dipamerkan dalam acara Johannesburg International Motor Show, di Johannesburg, Afrika Selatan, (17/10). REUTERS/Siphiwe Sibeko

    Sejumlah pengunjung melihat mobil-mobil Audi saat dipamerkan dalam acara Johannesburg International Motor Show, di Johannesburg, Afrika Selatan, (17/10). REUTERS/Siphiwe Sibeko

    TEMPO.CO, Johannesburg - Usulan keringanan pajak untuk pembelian mobil baru tidak hanya terjadi di Indonesia. Produsen mobil di Afrika Selatan juga meminta pemerintah untuk mengurangi pajak atas pembelian kendaraan baru sebagai bagian dari paket stimulus yang diusulkan karena terdampak pandemi virus corona.

    Proposal pemangkasan pajak mobil baru tersebut disampaikan kepada pemerintah pada hari Senin, 28 September 2020, oleh National Association of Automobile Manufacturers of South Africa (NAAMSA), kata kepala eksekutifnya Mike Mabasa. Tujuannya adalah untuk meningkatkan penjualan lokal mobil baru karena pasar ekspor negara itu terancam oleh pandemi virus corona (Covid-19). 

    NAAMSA mewakili raksasa mobil global seperti Nissan dan Toyota yang memproduksi kendaraan di Afrika Selatan, dengan sekitar 64 persen untuk ekspor.

    “Produsen mobil ingin menurunkan tarif pajak kendaraan baru dari 42 persen (harga saat ini) menjadi antara 35 persen dan 38 persen,” kata Mabasa, seperti dilaporkan Reuters, Selasa, 29 September 2020.

    Dalam presentasi NAAMSA menunukkan bahwa penghapusan pajak emisi karbon dioksida yang dikenakan saat pembelian dan mengurangi pajak impor - pajak berbasis nilai untuk barang mewah di Afrika Selatan - dapat bersama-sama meningkatkan penjualan baru hampir 28.400 unit.

    Tanpa ini, menurut Mabasa, beberapa anggota NAAMSA yang sangat bergantung pada penjualan ekspor terancam tidak dapat beroperasi.

    “Jika investasi (produsen mobil) tidak memberikan imbal balik, mereka pasti akan mempertimbangkan untuk hengkang,” katanya.

    Jika hal tersebut terjadi, akan merusak rencana ambisius 2035 untuk meningkatkan produksi mobil di Afrika Selatan, elemen kunci dari upaya Presiden Cyril Ramaphosa untuk menghidupkan kembali pertumbuhan dan menurunkan pengangguran melalui industrialisasi.

    Krisis virus corona sudah dianggap telah menempatkan beberapa tujuan utama dari rencana tersebut di luar jangkauan karena lockdown atau pembatasan aktivitas membuat industri terhenti dan permintaan menurun.

    “Permintaan tambahan untuk kendaraan baru yang dihasilkan dari pemotongan pajak yang diusulkan akan setara dengan sekitar satu bulan penjualan,” kata Mabasa.

    Dia menambahkan bahwa NAAMSA memperkirakan ini dapat menciptakan sekitar 4.000 pekerjaan di seluruh industri. NAAMSA diperkirakan penghapusan pajak penjualan akan menghasilkan tambahan 1 miliar rand atau setara Rp 877 miliar (kurs saat ini 1 rand = Rp 877) untuk perbendaharaan negara yang tertekan.

    Sementara pengurangan pajak impor (barang yang termasuk mewah) akan berdampak netral, karena penjualan yang lebih tinggi akan mengimbangi tarif pajak yang lebih rendah per kendaraan. 

    Di Indonesia, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) melalui Kementerian Perindustrian mengusulkan stimulus tambahan berupa pajak 0 persen untuk pembelian mobil baru. Belum ada keputusan final terkait usulan ini. 

    Di Malaysia, pemerintah memberikan keringan berupa penghapusan pajak 100 persen untuk pembelian mobil baru yang dirakit lokal dan 50 persen untuk mobil impor. Langkah ini membuat penjualan mobil di Malaysia pada Agustus lalu mencapai 52.800 unit, naik dibanding bulan sebelumnya yang hanya 51.148 unit. 



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.