Tesla Lirik Investasi Proyek ESS Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  •  Para karyawan bekerja di Gigafactory Tesla di Shanghai, Cina timur, pada 20 November 2020. Peletakan batu pertama Gigafactory Tesla di Shanghai dilakukan pada awal 2019, sementara gelombang pengiriman pertama sedan Model 3 made-in-Cina buatan pabrik itu dilakukan setahun kemudian.  (Xinhua/Ding Ting)

    Para karyawan bekerja di Gigafactory Tesla di Shanghai, Cina timur, pada 20 November 2020. Peletakan batu pertama Gigafactory Tesla di Shanghai dilakukan pada awal 2019, sementara gelombang pengiriman pertama sedan Model 3 made-in-Cina buatan pabrik itu dilakukan setahun kemudian. (Xinhua/Ding Ting)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahajana Wirakusumah menyinggung Tesla dalam paparan perkembangan kerjasama Badan Usaha Milik Negara dengan calon mitra proyek baterai kendaraan listrik.

    Menurut dia, pemerintah sedang ingin mengetahui ketertarikan Tesla dalam investasi baterai kendaraan listrik

    Tesla adalah produsen mobil listrik asal Amerika Serikat yang belakangan bernegosiasi dengan Indonesia mengenai investasi baterai kendaraan listrik.

    Tesla pun disebut pendatang terbaru yang menyatakan minat berinvestasi di Indonesia. Dua perusahaan calon mitra lainnya yang aktif melakukan komunikasi dengan tim adalah perusahaan baterai asal Cina CATL dan LG Chem (Korea Selatan).

    BacaIni Alasan Orang Indonesia Membeli Mobil Listrik Tesla

    "Kami sudah maju jauh 5 sampai 6 bulan di depan, Tesla baru belakangan masuk. Sehingga kami sedang mempelajari mereka mau masuknya ke (investasi) mana," ujar dia dalam diskusi yang digelar Kementerian BUMN pada Selasa, 2 Februari 2021.

    Agus Tjahajana Wirakusumah juga Komisaris Utama BUMN Mining Industry Indonesia (Mind ID).

    Menurut Agus, berdasarkan negoasisi terakhir Tesla ingin berinvestasi pada produksi sistem penyimpanan energi atau Energy Storage System(ESS).

    Adapun perusahaan asal Korea Selatan, LG, juga sedang dalam tahap negosiasi. LG meminta kepastian jaminan bahan baku baterai selama produksi.

    Agus mengungkapkan bahwa swasta khawatir bahan baku baterai mobil listrik akan habis pada 10-20 tahun masa produksi. Jika pasokan tak memenuhi, investasi triliunan rupaih bakal sia-sia.

    "Itu wajar," ucap Agus soal Tesla dan LG.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.