Suzuki Asian Challenge Dihentikan Tahun 2018, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua pembalap MotoGP tim Suzuki Ecstar Andrea Iannone dan Alex Rins memeriahkan acara Suzuki Biker Meet Jambore Nasional 2018 di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat, 3 Februari 2018. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    Dua pembalap MotoGP tim Suzuki Ecstar Andrea Iannone dan Alex Rins memeriahkan acara Suzuki Biker Meet Jambore Nasional 2018 di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat, 3 Februari 2018. TEMPO/Eko Ari Wibowo

    TEMPO.CO, Sentul - Suzuki Asian Challenge tidak akan menjadi bagian perlombaan pada Asia Road Racing Championship tahun ini. Suzuki memastikan akan menghentikan sementara balapan yang awalnya untuk mencari bibit pembalap di negara asia tenggara ini.

    "SAC akan berhenti dulu tahun ini. Ada beberapa yang akan dibenahi dulu, kompetisi ini kan melibatkan negara di Asia," ujar Sales & Marketing 2W Department Head SIS, Yohan Yahya di Sirkuit Sentul, Sabtu 3 Februari 2018.

    Baca: 2 Pembalap MotoGP Keliling Sentul Bareng Ribuan Biker Suzuki

    Ia membantah anggapan bahwa penghentian kompetisi itu karena sisi marketing tak efektif mendongkrak penjualan Suzuki GSX-R150. Menurutnya, penghentian tersebut telah melewati pertimbangan termasuk negara Asia lainnya.

    "Kita tidak bisa melihat secara kasat mata bikin kegiatan marketing adalah investasi yang tidak bisa kelihatan hasilnya seketika," ujarnya.

    Simak: Klan Suzuki Thunder Masih Dijual di Vietnam Jadi Motor Pekerja

    Suzuki juga belum berminat turun di ARRC baik kelas underbone maupun super sport. "Nantilah pada waktunya," Yohan berkelit.

    Meski demikian, Suzuki tetap akan mendorong pembalap muda di kompetisi lokal. Beberapa diantara Suzuki mendukung pembalap di Sumatera dan Sulawesi. "Kita main di kegiatan lokal dulu sementara."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.