Mazda Enggan Buat Sportcar Rotary dan Listrik, Ini Penjelasannya

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penampakan Mazda3 2019. Sumber: carscoops.com

    Penampakan Mazda3 2019. Sumber: carscoops.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Bos Mazda Akira Marumoto mengungkapkan tidak tertarik untuk meluncurkan sportcar bertenaga listrik. "Saya tidak ingin membuat mobil seperti itu, saya lebih suka bau bensin," katanya. Ia menyebut Mazda adalah pemain kecil dan bahwa segmen ceruk kecil memiliki prioritas rendah untuk perusahaan.

    Baca: Mazda3 2019 Meluncur, Ini Teknologi Baru yang Diusung

    Saat ini, Mazda sedang fokus pada produk baru Mazda3 hatchback dan sedan. Mobil ini akan dipasarkan dalam penggerak all-wheel plus konfigurasi gearbox manual. Sayangnya, produsen Jepang ini tak mau membangkitkan model MPS, mobil sport dengan tenaga mesin rotary.

    Daripada memperluas ke segmen baru, Mazda ingin memantapkan dirinya sebagai alternatif premium untuk merek Eropa yang sudah mapan. Itu harus datang melalui peningkatan kualitas secara keseluruhan dan kenyamanan yang lebih baik dan penyempurnaan model dari jajaran merek yang sudah ada.

    Marumoto mengatakan mobil Konsep RX Vision yang menakjubkan dan dipamerkan pada 2015 akan tetap menjadi studi desain. Mazda telah mengkonfirmasi bahwa mesin rotary akan digunakan sebagai generator di salah satu kendaraan listrik masa depan, tetapi tidak akan ada mobil sport dua pintu putar bertenaga putar.

    Baca: Terungkap Sosok Hatchback Mazda3 2019: Lebih Modis dan Elegan

    "RX Vision adalah model untuk pengembangan desain sehingga kami tidak merencanakan produksi atau komersialisasi model ini," dalam komentar Marumoto. "Saya menerima pertanyaan ini mungkin 100 kali, dan saya tidak akan melakukannya. Itu adalah mimpi bagi semua eksekutif Mazda dan karyawan dan ini adalah tugas saya untuk membuat impian para karyawan menjadi kenyataan. Tidak ada yang diputuskan."

    MOTOR1


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.