Cina Hentikan Subsidi untuk Mobil Hidrogen, Mengapa?

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang model berpose saat memperkenalkan mobil konsep Hyundai Motor's FE Fuel Cell dalam Seoul Motor Show di Goyang, Seoul, Korea Selatan, 30 Maret 2017. AP Photo/Lee Jin-man

    Seorang model berpose saat memperkenalkan mobil konsep Hyundai Motor's FE Fuel Cell dalam Seoul Motor Show di Goyang, Seoul, Korea Selatan, 30 Maret 2017. AP Photo/Lee Jin-man

    TEMPO.CO, Jakarta - Kendaraan berbahan bakar hidrogen (mobil hidrogen) atau Fuel Cell tak akan lagi menerima subsidi dari Pemerintah Cina pada akhir 2020. Kepastian itu diumumkan langsung oleh Kementerian Keuangan Cina.

    "Beberapa pembuat mobil menjadi terlalu bergantung pada subsidi, yang pada akhirnya mereka sulit bersaing di pasar global. Selain itu, industri Fuel Cell juga dinilai belum membuat terobosan dan belum menunjukkan perkembangan pesat," kata pihak Kementerian Keuangan seperti dikutip dari China Daily.

    Kebijakan subsidi untuk pengembangan industri otomotif berbahan bakar listrik murni, hybrid, plug-in hybrid, dan fuel cell (hidrogen) dikeluarkan pada tahun 2009. Sebelumnya, banyak yang berharap bahwa kendaraan berbahan bakar fuel cell akan dibebaskan dari aturan karena pemerintah pusat tidak memotong subsidi. Berbeda dengan kendaraan listrik murni, hybrid, dan plug-in hybrid, yang mendapat potongan pajak selama beberapa tahun terakhir.

    "Jadi kami pikir subsidi harus ditarik sementara. Langkah-langkah nonfinansial dapat diadopsi untuk memfasilitasi pembelian dan penggunaannya. Kami pikir pemerintah setempat dapat mengumumkan langkah-langkah untuk merangsang upaya membangun dan menjalankan stasiun hidrogen dan infrastruktur lainnya," ujar pihak kementerian.

    Beberapa perusahaan termasuk SAIC Motor, Great Wall Motors dan BAIC Group telah meningkatkan upaya untuk mengembangkan dan memproduksi kendaraan fuel cell yang diyakini sebagai solusi bebas emisi yang paling terbaik dari semua jenis industri otomotif.

    Cina sendiri sudah memiliki sekitar 1.200 kendaraan mobil Fuel Cell yang sudah mengaspal. Dan sudah memiliki kurang dari 20 stasiun bahan bakar hidrogen pada akhir 2017. Dibandingkan dengan Amerika, Jepang, dan Korea Selatan, Cina masih jah tertinggal.

    Untuk itu, Pemerintah Cina telah menetapkan target untuk memiliki 5.000 kendaraan fuel cell di jalan-jalannya pada tahun 2020. Kemudian 50.000 unit pada 2025, dan 1 juta unit pada 2030.

    Direktur Pelaksana Konsultan Automotive Foresight, Yale Zhan mengatakan bahwa pengembangan kendaraan berbahan bakar hidrogen atau fuel cell bergantung pada teknologi inti dan infrastruktur pendukung. Kata dia, Cina memerlukan setidaknya 10-20 tahun untuk mewujudkan industrialisasi dan komersialisasi kendaraan fuel cell.

    Song Qiuling, seorang pejabat Kementerian Keuangan Cina juga mengatakan bahwa kendaraan listrik murni akan tetap menjadi andalan dan inisiatif kendaraan energi baru Cina, karena kendaraan fuel cell masih memiliki jalan panjang sebelum digunakan secara luas.

    "Ada kesalahpahaman di antara media dan bahkan pembuat mobil bahwa Cina akan mengalihkan fokusnya dari kendaraan listrik ke kendaraan fuel cell," kata Song dalam Forum Internasional Pengembangan Industri Otomotif China di Tianjin bulan lalu.

    "Mobil hidrogen dan mobil listrik memiliki fitur teknologi yang berbeda dan mereka akan digunakan dalam situasi yang berbeda. Mereka akan saling melengkapi daripada menggantikan satu sama lain," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Atlet E-Sport, Jadi Miliarder Berkat Hobi Bermain Video Game

    Dunia permainan digital sudah bukan tidak bisa dipandang sebelah mata. Kini, para atlet e-sport mampu meraup miliar rupiah hasil keterampilan mereka.