TEMPO.CO, Jakarta - Dunia sedang menderita kelangkaan pasokan chip semikonduktor yang berdampak pada berbagai industri, termasuk otomotif. Kekurangan chip itu diperburuk oleh berbagai faktor yang terjadi saat ini, dan diperkirakan berlanjut hingga 2022.
Dikutip dari Gizmochina, Rabu, 21 April 2021, ada dua rintangan utama yang dihadapi saat ini. Termasuk pandemi Covid-19, serta perang dagang Amerika Serikat-Cina yang sedang berlangsung dan mempengaruhi rantai pasokan.
Baca juga:
Sementara, kenaikan harga chip adalah akibat dari kekurangan yang sebagian besar terkait dengan sektor semikonduktor untuk saat ini. Para analis percaya, beberapa produk konsumen dengan margin rendah mungkin juga akan segera melihat kenaikan harga dalam waktu dekat karena kekurangan kapasitas.
Banyak analis juga percaya bahwa penyebab awal kekurangan chip sebenarnya disebabkan oleh meningkatnya gesekan antara Amerika dan Cina. Ini dimulai dengan Presiden sebelumnya, Donald Trump, yang mengembargo chip semikonduktor buatan Cina.
Meski Presiden terpilih saat ini, Joe Biden, berusaha untuk memperbaikinya dan membawanya kembali ke Amerika Serikat, hal itu diperkirakan memerlukan waktu yang lama untuk normal kembali.
Krisis chip ini diperparah dengan terbakarnya salah satu pabrik chip terbesar di Jepang beberapa waktu lalu.
Kekurangan itu pertama kali memengaruhi industri otomotif. Karena chip tersebut mengendalikan berbagai fungsi seperti rem, pintu, dan wiper kaca depan, serta banyak lagi.
Dan sekarang, kelangkaan chip semikonduktor juga mempengaruhi produk elektronik konsumen seperti smartphone dan pasar PC. Bahkan peralatan rumah tangga seperti mesin cuci dan microwave.
Beberapa produsen otomotif global seperti General Motors, Toyota, Volkswagen, Stellantis, Nissan, Ford, Mitsubishi, Hyundai, dan lainnya memangkas sejumlah produksinya karena kekurangan pasokan chip semikonduktor. Paling parah melanda sejumlah pabrik perakitan di Amerika Utara dan Amerika Serikat.
Kini, kelangkaan chip semikonduktor juga memaksa sejumlah pabrikan untuk menyesuaikan produksinya di sejumlah pabrik di Jepang, Korea Selatan, dan Thailand.
GIZMOCHINA
Baca juga: Pabrik Mobil di Indonesia Aman dari Krisis Semikonduktor