Produksi Mahesa, Sukiyat Ingin Tata Motors dan Sokon Bergabung

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sukiyat menunjukkan Mahesa Nusantara tipe double cabin di bengkel Kiat Motor miliknya di Jalan Solo - Jogja, Ngaran-Mlese, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, pada Jumat, 29 September 2017. DINDA LEO LISTY / KLATEN

    Sukiyat menunjukkan Mahesa Nusantara tipe double cabin di bengkel Kiat Motor miliknya di Jalan Solo - Jogja, Ngaran-Mlese, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, pada Jumat, 29 September 2017. DINDA LEO LISTY / KLATEN

    TEMPO.CO, Klaten -Inisiator Mahesa Nusantara, Sukiyat, akan menggandeng perusahaan otomotif asal luar negeri dalam proses produksi Mahesa Nusantara. Mahesa adalah moda angkutan hemat pedesaan yang digagas Sukiyat dan Institut Otomotif Indonesia (IOI).

    "Nanti kami diback-up Sokon dan Tata. Kalau Astra belum kelihatan. Tapi kalau Astra mau, masuk saja," kata Sukiyat saat ditemui Tempo di bengkel Kiat Motor miliknya di Jalan Solo - Jogja, Desa Mlese, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, pada Rabu, 3 Januari 2018. 

    Baca: Produsen Mahesa Nusantara Batal Bangun Pabrik
    Sokon atau PT Sokonindo Automobile adalah perusahaan otomotif asal Cina yang telah meresmikan pabrik barunya di Kabupaten Serang, Banten, pada November 2017. Adapun Tata Motors adalah perusahaan mobil asal India.

     
    Sukiyat mengatakan, Sokon dan Tata rencananya akan turut membuat sebagian komponen Mahesa yang ditargetkan mulai diproduksi massal pada Agustus 2018. "Sokon bisa buat mesin untuk bensin. Kalau Quick itu supplier yang bikin diesel. Jadi nanti ada dua (tipe Mahesa), bahan bakar bensin dan solar," kata Sukiyat. 

    Simak: Tunggu Regulasi, Mobil Pedesaan Mahesa Siap Produksi pada 2018

    Quick adalah merek traktor buatan CV Karya Hidup Sejahtera (KHS) Yogyakarta, salah satu industri yang turut dalam proyek pengembangan Mahesa.
     
    Dalam beberapa pertemuan yang membahas ihwal proses pembentukan prinsipal Mahesa Nusantara, Sukiyat berujar, ada kemungkinan Sokon dan Tata Motors akan tergabung dalam konsorsium. "Jadi konsorsium nanti ada Pak Kiat, Pak Made (Presiden IOI), dan bisa Sokon atau Tata," ujar Sukiyat.
     
    Menurut Sukiyat, tujuannya merangkul dua perusahaan otomotif asal luar negeri tersebut agar Mahesa, kendaraan multifungsi yang diperuntukkan bagi petani di pedesaan, dapat segera terwujud.
     
    "Kendaran itu terdiri dari ribuan komponen. Orang Indonesia inginnya punya produk yang full karya anak bangsa, tapi mereka cuma bisa ngomong. Mana kendaraan produk Indonesia yang pernah jadi," kata Sukiyat yang juga dikenal sebagai inisiator mobil Esemka.
     
    Sukiyat menambahkan, saat ini pihaknya masih berfokus pada pembentukan prinsipal Mahesa yang ditargetkan selesai pada Maret 2018. Prinsipal tersebut yang akan memutuskan di mana Mahesa akan diproduksi secara half assembly (perakitan tidak seluruhnya). 
     
    Sebelumnya, Presiden IOI I Made Dana Tangkas mengatakan pihaknya berharap agar konsorsium yang menjadi prinsipal tersebut dapat menggandeng putra-putri Indonesia untuk melanjutkan desain kendaraan pedesaan yang sudah dibuat IOI.
     
    "Konsorsium dari berbagai komponen anak bangsa. Apakah koperasi, yayasan, perorangan, kami libatkan untuk kendaraan ini," kata Made saat berkunjung ke bengkel mobil Mahesa pada Oktober 2017.

    Sementara itu, Presiden Direktur PT Tata Motors Distribution Indonesia Biswadev Sengupta menyampaikan bahwa terlalu dini saat ini untuk mengomentari tentang konsorsium dalam memproduksi mobil pedesaan.

    Sengupta menegaskan saat ini TMDI fokus untuk memenuhi permintaan pasar, terutama di armada truk. "Kami sudah memiliki produk untuk kendaraan pedesaan, Tata Ace EX2 bermesin diesel 700 cc yang mampu mengakomodasi kebutuhan kendaraan pedesaan di Indonesia," kata Sengupta kepada Tempo, Rabu, 3 Januari 2018.

    DINDA LEO LISTY | WAWAN PRIYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.