Mobil LCGC Diprediksi Penjualannya Anjlok Dibawah 10 Persen

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Toyota Agya di Bukiy Jaddih, Madura, 19 Mei 2017. Tempo/Wawan Priyanto.

    Toyota Agya di Bukiy Jaddih, Madura, 19 Mei 2017. Tempo/Wawan Priyanto.

    TEMPO.CO, Jakarta - Penjualan mobil Low Cost Green Car atau LCGC diprediksi terus menurun pada level di bawah 10 persen pada tahun ini. Penyebabnya, tidak adanya model baru dan berkembangnya pasar sepeda motor serta wacana pemerintah mengenakan pajak 3 persen.

    Baca: Pasar LCGC Terus Menyusut, 3 Pabrikan Menaikkan Grade Mobilnya

    Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menyatakan penjualan model KBH2 pada triwulan I/2019 sebanyak 52.388 unit, turun 10,6 persen dibandingkan periode yang sama 2018. Tren penurunan itu melanjutkan kinerja 2018 dan 2017 yang anjlok masing-masing 1,8 persen dan 0,3 persen.

    Executive General Manager PT Toyota-Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto mengatakan, selama 2 tahun terakhir pasar KBH2 mengalami koreksi karena beragam faktor. Pada 2017 terjadi peningkatan non performing financing (NPL) sehingga perusahaan leasing menahan pembiayaan pada 2018.

    Pada 2018, pasar segmen ini sedikit tertolong karena permintaan dari layanan taksi daring sehingga penurunan tidak terlalu menukik. Pada tahun ini, pasar LCGC diproyeksi bakal turun lebih dalam tetapi masih di bawah 10 persen.

    Baca: Executive GM Toyota: Mobil LCGC Tak Lagi Menguntungkan

    Dia menjelaskan, segmen LCGC ibarat tulang karena margin yang diperoleh produsen sangat tipis. Hal itu membuat produsen yang masuk ke segmen ini tidak bertambah sejak pertama kali dirilis pada 2013.

    "Kalau lihat APM [agen pemegang merek] masuk ke LMPV [low multi purpose vehicle], pasar motor berkembang, transportasi umum makin bagus lalu rencananya akan kena pajak 3 persen. Ini akan turun, tetapi enggak sampai 10 persen, pasarnya masih besar," ujarnya kepada Bisnis baru-baru ini.

    Soerjopranoto berpendapat, wacana tarif 3 persen dan pajak berdasarkan emisi untuk KBH2 tidak sejalan dengan minat konsumen. Pasalnya, konsumen KBH2 sangat sensitif dengan harga dan tidak peduli dengan emisi.

    Baca: Ini Alasan Wuling Belum Berminat Terjun di Segmen Mobil LCGC

    Menurutnya, konsumen yang cukup peduli dengan emisi umumnya untuk model menengah hingga premium. Jika produsen harus memilih antara KBH2 dan elektrifikasi, maka masuk ke mobil listrik merupakan pilihan rasional.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.