Krisis Semikonduktor, GM Terancam Kehilangan Laba Rp 27,9 Triliun

Reporter:
Editor:

Wawan Priyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo General Motors. REUTERS/Jeff Kowalsky/File Photo

    Logo General Motors. REUTERS/Jeff Kowalsky/File Photo

    TEMPO.CO, DetroitGeneral Motors mengatakan kekurangan chip semikonduktor global dapat memangkas hingga US$ 2 miliar (Rp 27,9 triliun dengan kurs saat ini US$ 1 = Rp 13.994) dari laba 2021, Reuters, Rabu, 10 Februari 2021.

    Meski demikian, GM mengabarkan bahwa kontributor penjualan terbesar yakni SUV dan pikap berukuran besar tidak akan mengalami pemotongan produksi.

    Setelah melaporkan laba kuartal keempat sebesar US$ 2,8 miliar dan prospek laba 2021 yang dianggap konservatif, saham GM turun 4,5 persen pada awal perdagangan.

    Kepala Eksekutif Mary Barra, dalam sebuah jumpa pers, mengatakan GM "tidak akan kehilangan produksi apa pun" dari truk pikap dan SUV ukuran penuh yang menyumbang keuntungan tinggi, meskipun pasokan chip "masih tersendat".

    Baca juga: Trump Embargo Semikonduktor Bikin Industri Mobil Puyeng

    Namun, dia menambahkan, "kami akan dapat memenuhi jadwal produksi" untuk tahun ini. Pejabat GM telah berulang kali menekankan bahwa mereka akan melindungi produksi kendaraan dengan keuntungan tinggi.

    Rival General Motors, Ford Motor sebelumnya mengatakan telah kehilangan sebagian produksi truk pikap Ford F-150 yang merupakan model terlaris dan berkontribusi pada keuntungan tertinggi bagi perusahaan. 

    Pada hari Selasa, 9 Februari 2021, GM memperpanjang pengurangan produksi di tiga pabrik di Amerika Utara dan mengatakan akan membangun sebagian dan kemudian menyelesaikan perakitan kendaraan di dua pabrik lain karena kekurangan chip semikonduktor.

    Gangguan pasokan chip semikonduktor juga memaksa sejumlah pabrikan global untuk mengurangi produksinya. Di antarnya yang terkenda dampak adalah Toyota, Volkswagen, Nissan, dan Mazda



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.